Nekat Tantang Arab Saudi, Seberapa Kuat Arsenal Rudal dan Drone Militer Houthi
Kelompok bersenjata Houthi di Yaman terus menunjukkan kemampuan militernya meski telah menghadapi serangkaian serangan udara dari Arab Saudi, Amerika Serikat, Inggris, dan Israel selama bertahun-tahun.
Pada Sabtu (10/10/2026), Houthi bahkan menghantam Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, yang menewaskan 12 orang. Menurut laporan Al Jazeera, kekuatan mereka antara lain ditopang oleh jumlah pejuang yang besar serta persenjataan berupa rudal balistik, rudal jelajah, dan drone yang mampu menjangkau sasaran jauh.
Selain jumlah personel, persenjataan Houthi berkembang signifikan selama bertahun-tahun perang. Associated Press (AP) melaporkan kelompok tersebut memiliki berbagai rudal balistik, rudal jelajah, dan drone, banyak di antaranya menyerupai model buatan Iran.
Houthi juga menggunakan rudal antikapal dan drone laut untuk menyerang kapal di Laut Merah, salah satu jalur perdagangan penting dunia. Al Jazeera melaporkan, persenjataan Houthi mencakup rudal balistik jarak menengah Palestine-2 yang diyakini memiliki jangkauan sekitar 2.000 kilometer.
Rudal tersebut menggunakan bahan bakar padat dan terdiri atas dua tahap serta diyakini memiliki kemampuan hipersonik. Houthi juga memiliki rudal Toufan yang disebut menyerupai rudal Ghadr buatan Iran, yang diperkirakan memiliki jangkauan antara 1.350 kilometer dan 1.950 kilometer.
Untuk rudal jarak lebih pendek, Houthi memiliki seri Burkan dan Badr yang juga diyakini berasal dari Iran. Rudal-rudal tersebut telah digunakan dalam serangan lintas perbatasan ke Arab Saudi, bahkan hingga ke wilayah yang lebih jauh, yakni Israel. Menurut Nawaf Obaid, peneliti senior di King's College London War Studies Department, persenjataan rudal Houthi pada dasarnya berasal dari teknologi Iran dengan sejumlah pengaruh teknologi China.
AP melaporkan Iran diyakini memasok komponen canggih, termasuk sistem pemandu, sementara Houthi dapat memproduksi banyak persenjataan di dalam negeri. Iran membantah memasok senjata kepada Houthi. Namun, senjata dan komponen asal Iran telah disita dari sejumlah pengiriman yang menuju Yaman. Laporan panel ahli PBB pada 2024 juga mendokumentasikan hubungan militer yang luas antara Houthi, Iran, dan kelompok-kelompok sekutunya.
BBC bahkan mengatakan, laporan panel ahli PBB tersebut menyimpulkan Houthi berubah menjadi organisasi militer yang kuat berkat transfer material, bantuan, dan pelatihan dari Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), Hizbullah Lebanon, serta spesialis dari Irak. Laporan Conflict Armament Research pada Mei 2026 juga menemukan perubahan dalam pola dukungan Iran. Jika sebelumnya Teheran mengirim senjata jadi, Iran kini semakin banyak mengirim komponen yang dapat dirakit oleh kelompok proksinya serta membagikan teknologi rudal yang semakin maju.
Faktor lain yang memengaruhi kekuatan Houthi Kekuatan Houthi tidak hanya berasal dari persenjataan. Kelompok tersebut beroperasi di wilayah Yaman yang luas dan didominasi gunung. Selama bertahun-tahun, serangan udara juga belum berhasil mengalahkan Houthi.
Arab Saudi melancarkan serangkaian serangan udara selama sekitar tujuh tahun sejak 2015, tetapi pasukan pemerintah Yaman dan kelompok separatis selatan yang menjadi lawan Houthi kesulitan mendorong mereka mundur. Amerika Serikat dan Inggris kemudian melancarkan serangan terhadap Houthi mulai Januari 2024. Pada 2025, Presiden AS Donald Trump memerintahkan kampanye udara yang lebih intensif. Seorang pejabat militer AS saat itu mengatakan sekitar 2.000 munisi dijatuhkan ke lebih dari 1.000 sasaran.
Menurut Thomas Juneau, profesor hubungan internasional di University of Ottawa, dukungan Iran hanya merupakan separuh dari alasan kekuatan Houthi. Faktor lainnya adalah kelemahan lawan mereka. Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, menurut Juneau, juga terpecah, lemah, tidak bersatu, dan korup sehingga Houthi dapat mengeksploitasi kondisi tersebut.
Keterbatasan Houthi Baca juga: Fakta-fakta Rumah Dinas Perwira TNI di Cijantung Jadi Markas Judol Meski memiliki persenjataan yang mampu menjangkau sasaran jauh, kemampuan militer Houthi tetap terbatas. Al Jazeera melaporkan jumlah pasti persediaan rudal Houthi tidak diketahui.
Wolfgang Pusztai, analis kebijakan keamanan dan pertahanan, memperkirakan Houthi kemungkinan hanya memiliki jumlah rudal balistik jarak pendek yang terbatas. Karena itu, mereka dinilai mungkin tidak mampu melakukan serangan dalam jumlah sangat besar secara bersamaan menggunakan banyak rudal dan drone. Sebaliknya, Houthi dapat memilih meluncurkan rudal tunggal ke sasaran yang pertahanannya lebih lemah untuk menciptakan dampak strategis, termasuk mengganggu lalu lintas penerbangan sipil.
Sumber: kompas.com

Posting Komentar