Ponorogo, Idmtimes.net-Lu’luatun Nikmah (38), ibu yang meninggal dunia di atas sepeda motor di Jalan Raya Ponorogo-Pacitan, Kecamatan Slahung, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, dikenal sebagai sosok pekerja keras. Setelah suaminya, Syamsuddin, meninggal dunia sekitar dua tahun lalu, perempuan asal Desa Jebeng, Kecamatan Slahung, itu berjuang memenuhi kebutuhan hidup empat anaknya dengan melakukan berbagai pekerjaan.
Hal itu disampaikan tetangganya, Ahmad Iqdam Muslihuddin, saat menceritakan keseharian Lu’luatun, Rabu (21/10/2026). “Pekerja keras. Sampai cari daun pisang untuk dijual ke pedagang-pedagang juga. Semua dikerjakan mbak,” ungkap Ahmad, dilansir dari TribunJatim.
Ahmad menjelaskan, Lu’luatun menjalani kehidupan berat setelah ditinggal suaminya. Meski demikian, ia tetap berusaha memenuhi kebutuhan anak-anaknya melalui berbagai pekerjaan yang bisa dilakukan.Menurut Ahmad, Lu’luatun memang kerap mengumpulkan daun pisang di sekitar tempat tinggalnya untuk dijual. Salah satu pembelinya merupakan pemilik warung makan yang tinggal di dekat rumahnya.
“Karena kebetulan yang termasuk yang membeli itu samping saya, samping rumah saya itu beliau rumah makan apa warung gitu, beliau sering almarhumah sering setor,” tegasnya. Selain menjual daun pisang, Lu’luatun terkadang membuat rujak dan asinan untuk dijual.
Ia juga mengumpulkan kain perca yang kemudian disetorkan kepada orang lain. “Saya secara detailnya kurang tahu. Almarhumah pekerja keras, nggih. Almarhumah ini pekerja keras,” paparnya. Baca juga: Tak Pernah Mengeluh Sakit, Ibu di Ponorogo Meninggal di Atas Motor Saat Antar Anak Berobat
3 anak sudah sekolah, 1 masih balita Ahmad mengatakan, Lu’luatun meninggalkan empat anak. Anak bungsunya berusia sekitar 3,5 tahun, sedangkan tiga anak lainnya masih menempuh pendidikan di madrasah ibtidaiyah (MI) dan tinggal di lingkungan pesantren.
“Yang saat ini yang 3 masih sekolah di sekolah di pesantren di MI,“ urainya. Perjuangan Lu’luatun juga dipengaruhi latar belakang keluarganya.
Menurut Ahmad, kedua orang tua Lu’luatun telah meninggal ketika ia masih kecil. Sejak itu, ia diasuh oleh kakak dari neneknya hingga dewasa. “Karena orang tua beliau juga sudah meninggal saat almarhumah ini masih masih kecil, masih Mudi. Maka almarhumah diopeni sama Mbah Dhe kakak dari nenek beliau.
Dari kecil sampai sekarang ini,” imbuhnya. Baca juga: Sebelum Meninggal di Atas Motor, Ibu di Ponorogo Hendak Bawa Anak Berobat Meski bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keempat anaknya, Lu’luatun bukan berarti sama sekali tidak mendapat bantuan.
Ahmad menyebut keluarga dari pihak suami turut membantu, begitu pula pihak lain yang memberikan perhatian kepada keluarga tersebut.
“Ya menghidupi sendiri tapi kan dari keluarga suami juga ikut membantu. Insyaallah ada, dari keluarga juga ada. Ini tadi juga teman-teman teman dari apa PKH ini tadi juga hadir ya,” tandasnya.Tak pernah mengeluh sakit sebelum meninggal Ahmad juga mengungkapkan, berdasarkan informasi yang diketahuinya dari keluarga, Lu’luatun tidak pernah mengeluhkan penyakit yang dideritanya. Ia menceritakan, sebelum meninggal dunia, Lu’luatun sempat mengantar anak bungsunya berobat ke bidan di wilayah Gombang. Setelah pulang, anaknya kembali mengalami muntah-muntah sehingga Lu’luatun memutuskan membawanya kembali ke bidan.Dalam perjalanan yang berjarak sekitar tiga kilometer dari rumahnya itu, Lu’luatun disebut mulai merasa tidak enak badan. Ia kemudian menepi sebelum akhirnya meninggal dunia di atas sepeda motor. “Enggak pernah mengeluh.
Yang justru perjalanan almarhumah ini kan mengobatkan anaknya ke bidan Gombang, terus itu siang hari, terus dibawa pulang, di rumah juga ternyata mutah-mutah. Itu mengembalikan lagi ke sana, Gombang, dari sini sekitar 3 km. Padahal di perjalanan beliau merasa enggak enak badan, terus minggir dan meninggal dunia akhirnya viral,” pungkasnya.
Posting Komentar